Lentera-PENDIDIKAN.com,MUARA ENIM-Dalam rangka memperkuat peran perempuan, Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK), Friedrich-Ebert-Stiftung (FES) Indonesia, Yayasan Remaja Indonesia Sehat (RISE Foundation), dan Pemerintah Kabupaten Muara Enim meluncurkan Program RUMPUN HIJAU (Ruang Masyarakat dan Perempuan Hidupkan Inisiatif Hijau) di ruang rapat Pangripta Nusantara Bappeda Kabupaten Muara Enim, Sumatera Selatan, Senin (8/6/2026).
Peluncuran program RUMPUN HIJAU tersebut dilakukan langsung oleh Bupati Muara Enim Edison bersama perwakilan Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK), Friedrich-Ebert-Stiftung (FES) Indonesia, Yayasan Remaja Indonesia Sehat (RISE Foundation) dan dihadiri OPD terkait.
Bupati Muara Edison, mengatakan bahwa transisi energi hanya akan menjadi proses yang berkeadilan apabila masyarakat memiliki kesempatan yang setara untuk memahami, terlibat, dan menentukan arah perubahan. Atas dasar komitmen untuk memastikan tidak ada yang tertinggal dalam proses tersebut, maka Pemkab Muara Enim bersama pihak terkait meluncurkan program RUMPUN HIJAU.
Lanjut Edison, RUMPUN HIJAU adalah program pemberdayaan perempuan dan remaja perempuan yang mendorong peningkatan literasi, aksi kolektif, dan ruang partisipasi masyarakat dalam mendukung Transisi Energi yang Berkeadilan (Just Energy Transition/JET) di Muara Enim. Dan Muara Enim dipilih sebagai lokasi pelaksanaan program karena memiliki peran strategis dalam sektor energi nasional.
Dikatakan Edison, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Muara Enim tahun 2025, sektor pertambangan dan pengalian menyumbang 69,59 persen terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) daerah. Ketergantungan yang tinggi terhadap sektor ekstraktif menjadikan wilayah ini penting dalam percakapan mengenai masa depan pembangunan yang lebih berkelanjutan dan inklusif. Komitmen terhadap Transisi Energi yang Berkeadilan juga menjadi bagian dari arah pembangunan Kabupaten Muara Enim.
“Muara Enim tengah bergerak maju bertransformasi menjadi episentrum energi hijau di Sumatera Selatan. Kita berkomitmen kuat untuk secara bertahap beralih dari ketergantungan penuh pada batu bara menuju portofolio Energi Baru Terbarukan (EBT) dan hilirisasi yang ramah lingkungan,” ujar Edison, Bupati Kabupaten Muara Enim.
Edison menuturkan bahwa Pemerintah Kabupaten Muara Enim juga berharap program ini dapat memperkuat gerakan penghijauan di wilayah pertambangan sekaligus mendorong keterlibatan perempuan sebagai penggerak dalam berbagai inisiatif pembangunan hijau.
Deputi Bidang Koordinasi Peningkatan Kualitas Keluarga dan Kependudukan Kemenko PMK, Woro Srihastusti Sulistyaningrum, menyoroti keterkaitan erat antara isu energi, perubahan iklim, dan kehidupan sehari-hari perempuan. Dan Kita sering melihat isu energi dan perubahan iklim sebagai isu
teknis. Padahal dampaknya sangat dekat dengan kehidupan perempuan, mulai dari kesehatan keluarga, pengelolaan sumber daya rumah tangga, ketahanan pangan, hingga peluang ekonomi baru yang lahir dari ekonomi hijau.
“Pesan utama kami adalah bahwa transisi energi yang berhasil bukan hanya menghasilkan energi yang lebih bersih, melainkan juga masyarakat yang lebih sejahtera, perempuan yang lebih berdaya, kelompok rentan yang lebih terlindungi, dan generasi muda yang lebih siap menghadapi masa depan.” ujarnya.
Ditambahkan Artin Wuriyani, Direktur Eksekutif RISE Foundation, untuk di tingkat implementasi, RISE Foundation akan mendampingi organisasi masyarakat sipil, perempuan, dan remaja perempuan untuk memperkuat kapasitas, membangun jejaring kolaborasi, serta mendorong lahirnya aksi-aksi kolektif di tingkat komunitas. Melalui RUMPUN HIJAU, kami ingin memastikan isu transisi energi tidak hanya dipahami sebagai persoalan teknologi dan kebijakan, tetapi juga sebagai isu yang dekat dengan kehidupan sehari-hari masyarakat. Karena itu, penting untuk membuka lebih banyak ruang bagi perempuan dan remaja perempuan agar dapat terlibat, menyampaikan perspektifnya, dan menjadi penggerak perubahan di komunitasnya.
“Kami percaya bahwa transisi energi yang berkeadilan hanya dapat terwujud ketika masyarakat menjadi bagian dari proses perubahan itu sendiri,” kata Artin Wuriyani.
Sementara Artanti Wardhani, Program Coordinator FES Indonesia, mengatakan bahwa selama implementasi program, RUMPUN HIJAU akan melibatkan sedikitnya lima organisasi masyarakat sipil, memperkuat kapasitas 25 fasilitator remaja perempuan, menjangkau 250 perempuan, remaja perempuan dan masyarakat adat melalui kegiatan pembelajaran terkait green lifestyle, green skills, dan green jobs, serta menjangkau lebih dari 7.000 perempuan dan remaja perempuan melalui kampanye publik mengenai Transisi Energi yang Berkeadilan. Bagi FES Indonesia, keterlibatan berbagai aktor dan kelompok menjadi elemen penting dalam memastikan proses transisi energi dapat berjalan secara adil dan memberikan manfaat yang lebih luas.
“Transisi Energi yang Berkeadilan membutuhkan kolaborasi yang kuat antara pemerintah, masyarakat sipil, dan komunitas lokal agar manfaatnya dapat dirasakan secara lebih luas. Melalui kolaborasi tersebut, berbagai pihak dapat saling belajar dari pengalaman masing-masing dan memperkuat praktik-praktik baik yang relevan dengan kebutuhan,” ujar Artanti Wardhani.
Melalui RUMPUN HIJAU, Artanti, berharap perempuan, masyarakat sipil, dan komunitas lokal didorong untuk mengambil peran yang lebih aktif dalam mewujudkan transisi energi yang berkeadilan dan berkelanjutan.
