Lentera-PENDIDIKAN.com,MUARA ENIM- Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Muara Enim mengungkapkan hingga saat ini terdapat dua kejadian kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang berhasil dipadamkan. Sementara itu, jumlah titik panas (hotspot) di wilayah Muara Enim masih didominasi oleh panas yang berasal dari area tambang batu bara.
Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Muara Enim Abdurrozieq Putra, mengatakan berdasarkan rilis terbaru BMKG, puncak musim kemarau di Kabupaten Muara Enim diperkirakan terjadi pada Agustus hingga September 2026.
“Untuk Kabupaten Muara Enim, hotspot memang cukup banyak, tetapi kalau firespot atau titik api yang benar-benar terjadi baru ada dua,” ujar Rozieq, Kamis 9 Juli 2026.
Rozieq menjelaskan, karhutla pertama terjadi di Desa Gumai, Kecamatan Gelumbang selama dua hari, yakni Sabtu hingga Minggu (4-5 Juli 2026). Api berhasil dipadamkan melalui operasi gabungan pemadaman darat dan udara dengan melibatkan Manggala Agni, BPBD, dan instansi terkait.
“Alhamdulillah api berhasil dipadamkan. Luas lahan yang terbakar di Desa Gumai sekitar dua hektare,” katanya.
Selanjutnya, pada Senin (6/7/2026) malam, kembali terjadi karhutla di Desa Harapan Mulia, Kecamatan Muara Belida. Tim Reaksi Cepat (TRC) BPBD bersama masyarakat bergerak cepat melakukan pemadaman hingga api berhasil dipadamkan sekitar pukul 21.30 WIB.
“Untuk di Desa Harapan Mulia, luas lahan yang terbakar sekitar seperempat hektare dan api berhasil dipadamkan malam itu juga,” jelasnya.
Rozieq menambahkan, berdasarkan pemantauan terbaru terdapat sekitar 10 hotspot di Kabupaten Muara Enim. Namun, sebagian besar titik panas tersebut berada di Desa Darmo dan merupakan panas yang berasal dari tumpukan batu bara di kawasan tambang.
“Jadi penyumbang hotspot terbanyak itu berasal dari aktivitas tambang, bukan karena kebakaran hutan dan lahan,” tegasnya.
Rozie mengatakan, terkait penyebab dua kejadian karhutla tersebut hingga kini masih dalam penyelidikan sehingga belum dapat dipastikan pemicunya.
“Untuk penyebab karhutla dalam dua firespot yang terjadi masih belum diketahui,” katanya.
Sebagai langkah pencegahan, BPBD Muara Enim terus meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat. Tim Reaksi Cepat yang ditempatkan di Posko Lapangan Gelumbang secara rutin melaksanakan patroli sekaligus mengedukasi warga agar tidak membuka lahan dengan cara membakar.
“Kami terus mengimbau masyarakat untuk tidak membuka lahan dengan cara membakar, mengingat puncak musim kemarau diperkirakan masih akan terjadi pada Agustus hingga September,” pungkasnya.
