1. Pendahuluan
Self Accounting dikembangkan sebagai suatu gagasan bahwa manusia tidak hanya berhadapan dengan pencatatan transaksi ekonomi, tetapi juga dengan pencatatan, pemeriksaan, evaluasi, dan pertanggungjawaban atas seluruh perbuatannya. Dalam perspektif ini, manusia dipandang sebagai subjek yang mempunyai tanggung jawab moral dan spiritual atas apa yang dipikirkan, diucapkan, dipilih, dan dilakukan.
Penguatan lintas kitab suci dapat dilakukan secara akademik dengan melihat adanya tema yang beririsan dalam Taurat/Perjanjian Lama, Injil/Perjanjian Baru, dan Al-Qur’an: perbuatan manusia diketahui Tuhan, terdapat dimensi pencatatan atau kitab peringatan, manusia diminta memberikan pertanggungjawaban, dan perbuatan mempunyai konsekuensi moral. Kesamaan tema ini tidak berarti menyamakan teologi ketiga tradisi, melainkan digunakan sebagai bahan kajian komparatif.
2. Posisi Konseptual Self Accounting
Akuntansi konvensional terutama berkembang sebagai sistem identifikasi, pengukuran, pencatatan, pengklasifikasian, penyajian, dan pelaporan informasi ekonomi. Self Accounting memperluas ruang refleksi tersebut ke wilayah diri manusia. Perluasan ini bukan berarti mengganti financial accounting, melainkan membangun konsep tambahan mengenai accountability pribadi.
Rumusan awal yang digunakan dalam buku ini adalah: Self Accounting merupakan proses sadar yang dilakukan manusia untuk mengenali, mencatat atau mengingat, memeriksa, mengevaluasi, memperbaiki, dan mempertanggungjawabkan seluruh perbuatan dirinya kepada Allah, kepada sesama, kepada lingkungan, dan kepada dirinya sendiri.
3. Landasan dalam Taurat/Perjanjian Lama
3.1 Maleakhi 3:16 — Kitab Peringatan
Maleakhi 3:16 menggambarkan adanya ‘book of remembrance’ atau kitab peringatan yang ditulis di hadapan Tuhan bagi orang-orang yang takut kepada-Nya dan menghormati nama-Nya. Secara konseptual, bagian ini sangat relevan untuk membangun gagasan bahwa kehidupan manusia memiliki dimensi dokumentasi atau rekam jejak moral di hadapan Tuhan.
Relevansi Self Accounting: pencatatan/rekam jejak → ingatan moral → identitas manusia → pertanggungjawaban.
3.2 Pengkhotbah 12:14 — Setiap Perbuatan Diperhitungkan
Pengkhotbah 12:14 menyatakan bahwa Tuhan membawa setiap perbuatan ke dalam penghakiman, termasuk hal-hal yang tersembunyi, baik maupun jahat. Ayat ini penting karena cakupan pertanggungjawaban tidak dibatasi pada tindakan yang terlihat oleh manusia.
Relevansi Self Accounting: objek accountability mencakup perbuatan lahiriah dan hal yang tersembunyi.
3.3 Yeremia 17:10 — Pemeriksaan Hati dan Batin
Yeremia 17:10 menggambarkan Tuhan sebagai pihak yang menyelidiki hati dan menguji batin serta memberikan kepada setiap orang sesuai dengan perbuatannya. Dalam kerangka Self Accounting, hal ini dapat menjadi dasar pembahasan mengenai ‘internal audit of self’: manusia perlu memeriksa motivasi, niat, dan perilakunya sebelum mempertanggungjawabkannya.
3.4 Mazmur 62:13 — Balasan Menurut Perbuatan
Mazmur 62:13 memuat prinsip bahwa Tuhan membalas setiap orang menurut perbuatannya. Prinsip ini dapat dibaca sebagai hubungan antara tindakan, evaluasi, dan konsekuensi.
4. Landasan dalam Injil/Perjanjian Baru
4.1 Matius 12:36 — Pertanggungjawaban atas Perkataan
Matius 12:36 mengajarkan bahwa manusia akan memberikan pertanggungjawaban pada hari penghakiman atas perkataan yang diucapkannya. Ini memperluas objek accountability dari tindakan fisik kepada komunikasi verbal.
Relevansi Self Accounting: kata-kata merupakan bagian dari ‘transaksi moral’ manusia yang perlu dikendalikan dan dipertanggungjawabkan.
4.2 Matius 16:27 — Perbuatan dan Balasan
Matius 16:27 menghubungkan kedatangan Anak Manusia dengan pemberian balasan kepada setiap orang menurut perbuatannya. Secara konseptual, terdapat hubungan antara tindakan manusia dan konsekuensi yang diterimanya.
4.3 Roma 2:6 — Membalas Menurut Perbuatan
Roma 2:6 memuat prinsip bahwa Tuhan membalas setiap orang menurut perbuatannya. Ayat ini dapat ditempatkan dalam dimensi accountability dan konsekuensi moral.
4.4 2 Korintus 5:10 — Pertanggungjawaban atas Apa yang Dilakukan
2 Korintus 5:10 menjelaskan bahwa manusia akan tampil di hadapan pengadilan Kristus dan menerima sesuai dengan apa yang telah dilakukan selama hidup dalam tubuh, baik maupun buruk. Ini relevan dengan konsep evaluasi menyeluruh atas tindakan manusia.
4.5 Wahyu 20:12 — Kitab-Kitab Dibuka dan Perbuatan Diperiksa
Wahyu 20:12 merupakan salah satu teks yang paling dekat dengan metafora accounting. Teks tersebut menggambarkan kitab-kitab yang dibuka dan orang-orang dihakimi berdasarkan apa yang tertulis dalam kitab-kitab tersebut menurut perbuatan mereka. Dalam penelitian Self Accounting, bagian ini dapat dijadikan bahan analisis konseptual mengenai ‘record of deeds’.
5. Landasan dalam Al-Qur’an
5.1 QS Al-Qamar 54:52–53 — Seluruh Perbuatan Tercatat
QS Al-Qamar 54:52 menyatakan bahwa segala sesuatu yang mereka kerjakan berada dalam catatan/kitab, sedangkan ayat 53 menegaskan bahwa segala yang kecil maupun besar tercatat. Ini merupakan landasan yang sangat penting bagi gagasan bahwa perbuatan manusia mempunyai rekam jejak dan tidak hilang begitu saja.
5.2 QS Al-Jatsiyah 45:28–29 — Kitab yang Berbicara tentang Perbuatan
QS Al-Jatsiyah 45:28 menggambarkan setiap umat berlutut dan dipanggil untuk melihat catatan amalnya. QS Al-Jatsiyah 45:29 menyebutkan bahwa kitab/catatan tersebut berbicara dengan benar tentang apa yang telah dikerjakan. Dalam kerangka Self Accounting, ayat ini dapat dianalisis sebagai gambaran tentang record, evidence, accountability, dan audit trail perbuatan manusia.
5.3 QS Al-Isra’ 17:13–14 — Catatan Amal dan Membaca Catatan Diri
QS Al-Isra’ 17:13–14 menggambarkan catatan amal yang dikalungkan kepada setiap manusia dan pada hari kemudian diperintahkan agar seseorang membaca kitabnya sendiri. Secara konseptual, ini sangat relevan dengan gagasan self-review: manusia berhadapan dengan rekam jejak dirinya sendiri.
5.4 QS Al-Kahf 18:49 — Catatan yang Tidak Mengabaikan Perkara Kecil
QS Al-Kahf 18:49 menggambarkan kitab yang diletakkan dan orang-orang terkejut karena tidak ada perkara kecil maupun besar yang ditinggalkan. Ayat ini dapat digunakan untuk memperkuat prinsip completeness dalam Self Accounting.
5.5 QS Az-Zalzalah 99:7–8 — Sekecil Apa Pun Perbuatan
QS Az-Zalzalah 99:7–8 menegaskan bahwa kebaikan maupun keburukan seberat zarrah akan diperlihatkan. Dalam Self Accounting, prinsip ini dapat diterjemahkan secara konseptual
sebagai perhatian terhadap materialitas moral: tindakan kecil sekalipun tetap mempunyai nilai dalam pertanggungjawaban spiritual.
6. Tabel Perbandingan Konseptual
| SUMBER | RUJUKAN | TEMA UTAMA | RELEVANSI SELF ACCOUNTING |
| Taurat/PL | Maleakhi 3:16 | Kitab peringatan | Rekam jejak moral |
| Taurat/PL | Pengkhotbah 12:14 | Setiap perbuatan dihakimi | Accountability menyeluruh |
| Taurat/PL | Yeremia 17:10 | Hati dan batin diperiksa | Internal review diri |
| Injil/PB | Matius 12:36 | Pertanggungjawaban atas perkataan | Accountability komunikasi |
| Injil/PB | 2 Korintus 5:10 | Pertanggungjawaban atas perbuatan | Evaluasi tindakan |
| Injil/PB | Wahyu 20:12 | Kitab dibuka; perbuatan diperiksa | Record of deeds / audit trail |
| Al-Qur’an | QS 54:52–53 | Perbuatan tercatat | Completeness of records |
| Al-Qur’an | QS 45:28–29 | Kitab dan catatan perbuatan | Evidence & accountability |
| Al-Qur’an | QS 17:13–14 | Membaca kitab diri sendiri | Self-review |
| Al-Qur’an | QS 18:49 | Tidak ada yang kecil/besar terlewat | Kelengkapan pencatatan |
| Al-Qur’an | QS 99:7–8 | Perbuatan sekecil apa pun diperlihatkan | Konsekuensi tindakan |
7. Sintesis: Dari Record of Deeds menuju Self Accounting
Dari pembacaan komparatif di atas dapat dirumuskan bahwa konsep Self Accounting mempunyai tiga lapisan utama.
Pertama, lapisan record, yaitu adanya gagasan bahwa perbuatan manusia mempunyai rekam jejak.
Kedua, lapisan review, yaitu adanya pemeriksaan atau penyingkapan terhadap perbuatan, termasuk hal yang tersembunyi.
Ketiga, lapisan accountability, yaitu manusia menghadapi konsekuensi atas apa yang telah dilakukannya.
Dengan demikian, Self Accounting dapat dikembangkan bukan sebagai klaim bahwa kitab-kitab suci mengajarkan ilmu akuntansi modern, tetapi sebagai teori konseptual yang mengambil inspirasi dari tema pencatatan, pemeriksaan, dan pertanggungjawaban yang terdapat dalam sumber-sumber keagamaan.
8. Model Konseptual Self Accounting
Model yang dapat digunakan dalam penelitian adalah:
PERBUATAN → PENCATATAN/REKAM JEJAK → SELF-REVIEW → EVALUASI
→ PERBAIKAN → PERTANGGUNGJAWABAN
Model tersebut kemudian dapat dikembangkan menjadi siklus:
- Awareness — menyadari bahwa setiap tindakan mempunyai
- Identification — mengenali apa yang telah
- Recording — membuat catatan atau rekam jejak
- Classification — mengelompokkan perbuatan, misalnya ibadah, sosial, ekonomi, lingkungan, dan pribadi.
- Review — memeriksa kesesuaian perbuatan dengan nilai dan prinsip yang
- Correction — melakukan perbaikan atas
- Accountability — menyadari dan menerima konsekuensi moral/spiritual.
- Improvement — menjadikan hasil evaluasi sebagai dasar perubahan
9. Kebaruan yang Dapat Dikembangkan
Kebaruan Self Accounting dapat diarahkan pada perluasan makna accounting dari sekadar sistem informasi ekonomi menjadi sistem kesadaran dan pertanggungjawaban diri. Dalam konteks ini, accounting tidak hanya menjawab ‘berapa nilai transaksi?’, tetapi juga ‘apa yang telah saya lakukan?’, ‘mengapa saya melakukannya?’, ‘apa dampaknya?’, ‘apa yang harus saya perbaiki?’, dan ‘kepada siapa saya mempertanggungjawabkannya?’.
Untuk kepentingan akademik, klaim kebaruan sebaiknya diuji melalui kajian pustaka, penelitian empiris, dan pembandingan dengan konsep yang sudah ada seperti accountability, self-regulation, moral accounting, spiritual accounting, behavioral accounting, dan Islamic accounting.
10. Catatan Metodologis
Bab ini menggunakan pembacaan komparatif-konseptual. Ayat-ayat Taurat/Perjanjian Lama dan Injil/Perjanjian Baru tidak diposisikan sebagai bukti empiris tentang teori akuntansi modern. Demikian pula, Al-Qur’an tidak dipaksakan sebagai buku teks akuntansi. Yang dianalisis adalah tema normatif dan konseptual yang dapat menjadi dasar pengembangan konstruk Self Accounting.
Untuk disertasi, tahap berikutnya perlu dilakukan dengan metode tafsir yang jelas, kajian bahasa asli bila diperlukan, studi literatur lintas disiplin, dan validasi empiris terhadap konstruk Self Accounting. Dengan demikian, teori yang dihasilkan tidak hanya bersifat analogi, tetapi mempunyai definisi operasional dan bukti penelitian.
11. Kesimpulan
Taurat/Perjanjian Lama, Injil/Perjanjian Baru, dan Al-Qur’an menyediakan sejumlah teks yang dapat dibaca secara komparatif untuk mengembangkan fondasi konseptual Self Accounting. Tema yang paling menonjol adalah adanya rekam jejak perbuatan, pemeriksaan atas tindakan dan hal yang tersembunyi, serta pertanggungjawaban manusia atas apa yang telah dilakukan.
Dalam konstruksi penelitian, Al-Qur’an dapat menjadi sumber normatif utama sesuai fokus disertasi, sedangkan Taurat/Perjanjian Lama dan Injil/Perjanjian Baru menjadi sumber dialog komparatif untuk menunjukkan bahwa gagasan accountability manusia memiliki dimensi lintas tradisi. Pendekatan ini dapat memperkaya landasan filosofis Self Accounting tanpa menghapus perbedaan teologis masing-masing kitab.
12. Rujukan Ayat Utama untuk Pengembangan Berikutnya
- Taurat/Perjanjian Lama: Maleakhi 3:16; Pengkhotbah 12:14; Yeremia 17:10; Mazmur 62:13.
- Injil/Perjanjian Baru: Matius 12:36; Matius 16:27; Roma 2:6; 2 Korintus 5:10; Wahyu 20:12.
- Al-Qur’an: QS Al-Qamar 54:52–53; QS Al-Jatsiyah 45:28–29; QS Al-Isra’ 17:13–14; QS Al-Kahf 18:49; QS Az-Zalzalah 99:7–8.
Catatan:Dr. Addinul Ikhsan. CPA. CFAP, CTA adalah seorang Praktisi Akuntan Publik dan juga seorang Dosen Tetap di Institut Agama Islam Nahdatul Ulama
