Lentera-PENDIDIKAN.com,MUARA ENIM-Dalam rangka meningkatkan peran dan keterlibatan aktif ayah dan calon ayah dalam pengasuhan anak serta pendampingan remaja dan pra remaja guna mewujudkan generasi yang berkualitas, Pemkab Muara Enim melalui Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DPPKB) Kabupaten Muara Enim menggelar kegiatan Sosialisasi Gerakan Ayah Teladan Indonesia (GATI) Kabupaten Muara Enim Tahun 2026 di hotel Griya Sintesa Muara Enim, Selasa (4/8/2026).
Kegiatan tersebut dibuka oleh Asisten I Pemerintahan dan Kesra Kabupaten Muara Enim Drs H Andi Wijaya MM mewakili Bupati Muara Enim, Unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Kabupaten Muara Enim, Para Kepala Instansi Vertikal di Kabupaten Muara Enim, Kepala Perwakilan BKKBN Provinsi Sumatera Selatan, Para Kepala Perangkat Daerah di lingkungan Pemerintah Kabupaten Muara Enim, Tokoh Agama, Tokoh Masyarakat, Tokoh Pemuda, Organisasi Kemasyarakatan, para tamu undangan dan 100 perserta Ayah dan Calon Ayah.
Sedangkan Narasumber dari Perwakilan BKKBN Provinsi Sumatera Selatan, IKADI Kabupaten Muara Enim, dan Lembaga Psikologi Terapan LIMAS Palembang.
Andi Wijaya mengatakan bahwa seperti kita ketahui bahwa akhir bulan Juni yang lalu, kita bersama-sama memperingati Hari Keluarga Nasional (HARGANAS) ke-33 yang jatuh tanggal 29 Juni 2026 dengan tema “Ayah Wajib Hadir”. Tema ini mengingatkan kita kembali bahwa kehadiran sosok seorang ayah bukan hanya sebatas hadir secara fisik, tetapi juga hadir secara emosional, menjadi teladan, pelindung, sekaligus pendidik bagi anak-anak dalam keluarga.
Saat ini, lanjut Andi, bangsa kita sedang berada di sebuah jendela peluang historis yang sangat langka, yang dikenal sebagai Bonus Demografi. Ini adalah fase ketika struktur penduduk Indonesia didominasi oleh kelompok usia produktif, yaitu mereka yang berusia antara 15 hingga 64 tahun. Jumlah mereka jauh lebih besar dibandingkan dengan kelompok usia nonproduktif. Sejarah dunia mencatat bahwa Bonus Demografi hanya datang satu kali dalam perjalanan sebuah bangsa.
“Jendela peluang ini tidak akan terbuka selamanya, ia memiliki batas waktu. Saat ini, kita sedang berada pada fase yang sangat menentukan dalam perjalanan menuju cita-cita besar Indonesia Emas 2045,” ujar Andi.
Namun demikian, kata Andi, Bonus Demografi tidak serta-merta menjadi jaminan kemajuan. Peluang besar ini hanya akan menjadi kekuatan apabila didukung oleh sumber daya manusia yang berkualitas, yaitu generasi yang sehat, cerdas, berkarakter, produktif, serta memiliki daya saing tinggi. Sebaliknya, apabila kualitas sumber daya manusia tidak dipersiapkan dengan baik, Bonus Demografi justru berpotensi menjadi beban pembangunan. Oleh karena itu, investasi terbesar yang harus kita lakukan mulai hari ini adalah investasi pada pembangunan manusia.
Lebih lanjut, Andi menyampaikan sesuai amanat Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Kepala BKKBN, untuk memperbaiki kualitas SDM Kuncinya ada melalui tiga pilar utama pembangunan keluarga yakni Kesehatan, Pendidikan Karakter, dan Ketahanan Mental.
Pertama, Kesehatan, kita harus memastikan bahwa anak-anak yang lahir di Indonesia adalah anak-anak yang sehat fisik dan cerdas secara kognitif. Kita harus menuntaskan perang kita terhadap stunting. Anak yang mengalami stunting tidak hanya terganggu pertumbuhan fisiknya, tetapi yang paling berbahaya adalah perkembangan otaknya terhambat. Mereka akan kesulitan bersaing di era kecerdasan buatan dan otomatisasi masa depan. Oleh karena itu, pemenuhan gizi seimbang sejak 1000 Hari Pertama Kehidupan harus menjadi gerakan nasional di setiap dapur keluarga Indonesia.
Kedua, penguatan pendidikan karakter dan keterampilan abad ke-21. Keluarga adalah madrasah pertama, sekolah paling awal bagi setiap manusia. Di sinilah nilai-nilai kejujuran, kerja keras, integritas, kedisiplinan, dan rasa cinta tanah air ditanamkan. SDM unggul yang kita butuhkan untuk mengisi Bonus Demografi bukan hanya manusia yang pintar secara akademis, tetapi mereka yang memiliki karakter yang kokoh, adaptif, kreatif, dan mampu bekerja sama secara kolaboratif.
Ketiga, ketahanan mental dan spiritual. Di era yang penuh tekanan ini, gangguan kesehatan mental pada usia muda meningkat tajam. Tugas keluarga adalah menjadi pelabuhan emosional yang stabil, tempat di mana anak-anak merasa dihargai, didengarkan, dan didukung, sehingga mereka tumbuh menjadi pribadi yang resilien, tidak mudah menyerah oleh tantangan zaman.
Masih dikatakan Andi, upaya perbaikan kualitas SDM dan penguatan karakter ini mustahil terwujud jika beban pengasuhan hanya diletakkan di atas pundak para ibu sendirian. Oleh karena itu, peran Ayan di dalam rumah tangga bukan sekadar sebagai mesin pencari nafkah materi, tetapi keterlibatan aktif, kehadiran fisik, dan kedekatan emosional seorang Ayah dalam proses pengasuhan anak adalah faktor determinan bagi pembentukan struktur kepribadian dan kestabilan emosi anak-anak kita.
“Kita tidak boleh membiarkan anak-anak kita tumbuh dalam fenomena yang disebut ‘fatherless country’—sebuah kondisi di mana secara fisik Ayah mereka ada di rumah, namun secara psikologis dan spiritual sosok Ayah itu absen dari kehidupan anak. Anak-anak yang kehilangan figur Ayah cenderung tumbuh dengan kerentanan emosional, kurang percaya diri, dan lebih rentan terpengaruh oleh hal-hal negatif di luar rumah,” jelas Andi.
Atas dasar itulah, sambung Andi, Pemerintah melalui Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/BKKBN meluncurkan Gerakan Ayah Teladan Indonesia (GATI) sebagai sebuah gerakan prioritas nasional untuk mengembalikan peran strategis ayah dalam pengasuhan anak dan pembangunan keluarga.
Gerakan ini mengajak setiap ayah agar meluangkan waktu berkualitas bersama keluarga, membangun komunikasi yang hangat dengan anak-anak, mendampingi proses belajar mereka, menjadi teladan dalam sikap dan perilaku, serta berbagi tanggung jawab pengasuhan bersama ibu. Kehadiran ayah yang utuh akan memperkuat keharmonisan keluarga dan menjadi benteng pertama dalam mencegah berbagai permasalahan sosial yang dihadapi anak dan remaja.
“Saya mengajak seluruh ASN, TNI, Polri, para camat, kepala desa, tokoh agama, tokoh masyarakat, dunia usaha, organisasi kemasyarakatan, serta seluruh masyarakat Kabupaten Muara Enim untuk bersama-sama mendukung Gerakan Ayah Teladan Indonesia. Jadikan gerakan ini sebagai budaya baru dalam kehidupan keluarga kita, karena keluarga yang kuat akan melahirkan masyarakat yang kuat, dan masyarakat yang kuat akan mewujudkan daerah yang maju,” harap Andi.
Ditambahkan Kadin DPPKB Muara Enim melalui Kabid K3 ketahanan Kesejahteraan Keluarga Ir. Helga Nicoline Ursula, S.TP, M.Sc mengatakan bahwa tujuan umum kegiatan ini adalah untuk meningkatkan peran dan keterlibatan aktif ayah dan calon ayah dalam pengasuhan anak serta pendampingan remaja dan pra remaja guna mewujudkan generasi yang berkualitas. Sedangkan tujuan khusus, lanjut Helga untuk meningkatkan kesadaran dan kapasitas ayah serta calon ayah dalam pengasuhan yang positif dan bertanggung jawab, Mendorong peran ayah dalam mendampingi tumbuh kembang anak sejak usia dini hingga remaja, Membentuk generasi yang berkarakter mandiri, bertanggung jawab, optimis, dan berdaya saing, Mencegah perilaku berisiko pada remaja, termasuk pernikahan usia dini dan Mempersiapkan generasi yang siap menghadapi tantangan masa depan serta mampu berkontribusi positif bagi lingkungan sekitarnya.
Adapun peserta, kata Helga, sebanyak 100 orang laki laki yang terdiri ayah dan calon ayah yang bersala daro pegawai instansi vertikal, pegawai lingkup pemda Muara Enim, Pewawai BUMN/BUMD dan Swasta serta siswa tingkat SMA Kabupaten Muara Enim.


















