Lentera-PENDIDIKAN.com,MUARA ENIM-Kabupaten MUARA ENIM khususnya Semende Raya memiliki makanan tradisional yang enak dimakan dengan kopi atau teh panas. Namanya kue gunjing, rasanya ada yang manis, asin dan gurih serta gemuk.
Kue gunjing ini merupakan makanan ringan, yang terkenal secara turun temurun di kawasan Semende Raya (Semende Darat Laut, Semende Darat Tengah dan Semende Darat Ulu) Kabupaten Muara Enim. Kue gunjing berbentuk tipis panjang yang terbuat dari tepung beras, santan, diberi gula dan parutan kelapa. Kue gunjing ini dimasak dengan cara dipanggang.
Kue Gunjing sekilas bentuknya mirip seperti kue pukis, karena memang dibuat menggunakan cetakan kue pukis. Tapi rasa kue gunjing dan kue pukis jauh berbeda.
Kue gunjing sering dijadikan masyarakat Semende khusunya atau masyarakat Muara Enim ada umumnya untuk sarapan pagi. Selain itu, kue gunjing ini sering disajikan jika ada acara adat, kegiatan desa atau kunjungan tamu pemerintahan seperti Bupati dan pejabat lain ke Semende, kue gunjing biasanya menjadi kudapan yang khas dan dimakan dengan kopi panas.
Menurut salah seorang penjual kue Gunjing di pasar Inpres Muara Enim H Agusman AMA (51), bahwa ia mulai berjualan kue khususnya kue Gunjing sejak tahun 2008. Awalnya ia berjualan dengan cara berkeliling, namun seiring waktu dan kondisi fisik akhirnya ia memilih berjualan menetap yakni di pasar Inpres Muara Enim.
“Dulu saya berjualan berkeliling, tapi sekarang saya berjualan di pasar Inpres Muara Enim,” ujar ayah tiga anak ini, Selasa (6/10/2026)
Agusman, mengatakan ia berjualan gunjing awalnya karena di kota Muara Enim tidak ada yang berjualan gunjing. Atas dasar tersebut iapun mencoba peruntungan dengan membuat dan menjual kue gunjing.
“Dulu saya jual Rp 1000 perbiji, namun sekarang Rp 5000 per cup dengan isi 4 biji. Adapun rasanya tergantung keinginan pasar namun biasanya ada rasa asin, manis, gurih dan gemuk,” ujar putra asli Semende ini.
Masih dikatakan Agusman, selain berjualan kue gunjing, ia juga menjual kue lainnya dan minuman juz, sebab jika hanya mengandalkan kue gunjing agak sulit sebab peminatnya tidak terlalu banyak.
“Alhamdulilah, biar hasil berjualan kue kecil namun anak-anak harus tetap sekolah dan bisa makan,” pungkas Agus.


















