Lentera-PENDIDIKAN.com,BENGKULU-Naik kelas bagi pelaku UMKM bukan hanya soal meningkatkan penjualan. Konsistensi menjaga kebersihan, kualitas produk hingga memenuhi standar perizinan menjadi bagian penting agar produk lokal mampu menjangkau pasar yang lebih luas. Semangat itu yang dibawa Yayasan Baitul Maal PLN Unit Pelaksana Pelayanan Pelanggan Bengkulu (YBM PLN UP3 Bengkulu) saat mengajak belasan pelaku UMKM binaan Cahaya Preneur Batch II belajar langsung ke CV Jaya Rasa Bengkulu, Minggu (24/8/2026). UMKM lokal tersebut dipilih sebagai tempat pembelajaran karena telah memiliki izin dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).
Alih-alih hanya menerima materi di ruang pelatihan, peserta diajak melihat langsung bagaimana sebuah usaha mengelola proses produksi, menjaga higienitas dan kebersihan, mempertahankan kualitas produk hingga memenuhi standar yang dibutuhkan untuk memperluas akses pasar.
Kegiatan visitasi ini menjadi bagian dari pendampingan Cahaya Preneur Batch II yang diarahkan untuk mendorong pelaku usaha tidak berhenti pada kemampuan memproduksi dan menjual, tetapi juga mulai membangun usaha dengan standar yang lebih baik dan berkelanjutan.
General Manager PLN Unit Induk Distribusi Sumatera Selatan, Jambi dan Bengkulu (UID S2JB), Diksi Erfani Umar, mengatakan penguatan UMKM membutuhkan proses pendampingan yang menyentuh kebutuhan nyata pelaku usaha. Menurutnya, pengalaman belajar langsung dari UMKM yang telah lebih dahulu berkembang dapat memberikan gambaran konkret mengenai tahapan yang harus ditempuh untuk meningkatkan daya saing produk.
“UMKM yang ingin tumbuh harus terus meningkatkan kualitas, baik dari sisi produk, proses produksi, pengemasan maupun pemenuhan standar perizinan. Melalui Cahaya Preneur, kami ingin para pelaku usaha tidak hanya mendapatkan pengetahuan, tetapi juga melihat langsung praktik baik yang bisa mereka adaptasi untuk mengembangkan usahanya,” ujar Diksi.
Menurut Diksi, pemberdayaan UMKM menjadi penting karena usaha mikro dan kecil memiliki peran besar dalam menggerakkan ekonomi keluarga maupun masyarakat.
“Harapannya, UMKM binaan dapat tumbuh lebih mandiri dan memiliki daya saing. Ketika kualitas produk meningkat, legalitas semakin lengkap dan pasar semakin terbuka, dampaknya bukan hanya dirasakan oleh pelaku usaha, tetapi juga keluarga dan lingkungan di sekitarnya. Inilah nilai pemberdayaan yang ingin terus kami dorong,” lanjutnya.
Ketua YBM PLN UP3 Bengkulu mengatakan kegiatan tersebut dirancang agar peserta memperoleh pembelajaran yang lebih aplikatif. Salah satu fokus yang didorong adalah peningkatan pemahaman mengenai higienitas produk sebagai langkah awal menuju standar usaha yang lebih tinggi.
“Kegiatan ini diharapkan dapat menjadi media pembelajaran pengembangan produk ibu-ibu, terutama terkait higienitas. Kalau memungkinkan, ke depan produk ibu-ibu juga bisa mendapatkan BPOM. Kita akan terus melakukan gerakan yang berkelanjutan” ujarnya.
Dalam visitasi tersebut, peserta berkesempatan berdiskusi langsung dengan pemilik CV Jaya Rasa Bengkulu mengenai perjalanan membangun usaha. Mulai dari memperbaiki kualitas produksi, hingga memenuhi berbagai standar yang dibutuhkan dalam pengembangan bisnis.
Owner CV Jaya Rasa Bengkulu, M. Rofiq, mengatakan perjalanan sebuah UMKM untuk tumbuh tidak terjadi secara instan. Pengalaman belajar dari pelaku usaha lain justru menjadi salah satu tahapan yang pernah dilaluinya ketika merintis dan mengembangkan usaha.
“Kami sangat senang bahwa kami menjadi pilihan binaan YBM PLN untuk bisa tumbuh bersama. Sejatinya kami dulu juga seperti itu. Kami belajar ke sana-sini, mencari pengalaman dan terus belajar bagaimana mengembangkan usaha,” ungkap Rofiq.
Melalui Cahaya Preneur, YBM PLN UP3 Bengkulu berharap proses pembinaan tidak berhenti pada pelatihan, tetapi mampu menghasilkan perubahan nyata pada cara pelaku UMKM menjalankan usahanya. Mulai dari memperbaiki proses produksi, meningkatkan mutu dan konsistensi produk, melengkapi perizinan hingga menyiapkan diri memasuki pasar yang lebih luas.
Dengan pendampingan yang berkelanjutan dan kesempatan belajar langsung dari pelaku usaha yang telah berkembang, UMKM binaan diharapkan semakin berani menetapkan standar yang lebih tinggi bagi produknya. Sebab bagi usaha kecil, proses naik kelas kerap dimulai dari keberanian melihat, belajar, lalu memperbaiki cara menjalankan usaha.













