Polemik BKOW-Srikandi Pemuda Pancasila Memanas, Leni Mardiana Buka Suara soal Tudingan

Lentera-PENDIDIKAN.com,PALEMBANG-Persoalan antara Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Srikandi Pemuda Pancasila Sumatera Selatan dengan Badan Kerja Sama Organisasi Wanita (BKOW) Sumatera Selatan kembali mencuat.

Rencana pertemuan antara jajaran Sikandi Pemuda Pancasila Sumsel dengan Ketua BKOW Sumsel, Hj Lydiawati Cik Ujang, yang diharapkan menjadi ruang klarifikasi, disebut belum menghasilkan jawaban yang diinginkan pihak DPW Srikandi Pemuda Pancasila.

Ketua DPW Sikandi Pemuda Pancasila Sumsel, Prof Dr (Law) Hj Sunnah NBU SH MH. CPLA mengatakan, persoalan tersebut bermula dari surat permintaan klarifikasi yang telah dilayangkan pihaknya kepada BKOW Sumsel pada bulan April 2026, Somasi ke I Bulan Juni dan ke II Bulan Juli 2026. Namun, tidak ada respon atau tanggapan sebagaimana yang diharapkan.

Ia menjelaskan, Wakil Ketua I DPW Srikandi Leni Mardiana yang juga Pengurus BKOW Terindikasi telah di Fitnah oleh Pengurus BKOW juga yang di sampaikan oleh Ketua BKOW Hj. Lidya Cik Ujang melalui Wa ke Ketua DPW Srikandi.

Makanya Upaya komunikasi tetap dilakukan Wakil Ketua I Sikandi Pemuda Pancasila Sumsel, Leni Mardiana, melalui Sekretaris BKOW Sumsel hingga akhirnya membuka jalan untuk pertemuan pada hari ini
24 September 2026 yang Gagal dan tidak menemukan Kesepakatan apapun.

Permasalahan Perubahan Posisi pada Kepengurusan hasil rapat Formatur, yang dirubah tanpa sepengetahuan salah satu anggota formatur bukan menjadi awal konflik antara BKOW dengan DPW Srikandi Pemuda Pancasila Sumatera Selatan. Alasan
Perubahan tersebut yang membuat ketersinggungan DPW Srikandi.

Persoalan tersebut, lanjutnya, bukan semata-mata mengenai posisi seseorang dalam kepengurusan. Ia menilai ada aspek harga diri organisasi yang perlu dijelaskan karena nama DPW Sikandi Pemuda Pancasila disebut ikut terseret dalam persoalan tersebut.

Ia menegaskan pihaknya telah berupaya menyelesaikan persoalan melalui jalur komunikasi dan klarifikasi sebelum mengambil langkah lebih lanjut.

Namun, karena belum mendapatkan jawaban yang dianggap memuaskan, pihaknya menyatakan akan melanjutkan proses yang telah ditempuh.“Kami tetap akan melanjutkan proses hukum,” tegasnya.

Ia juga menyayangkan sikap Dewan Pembina BKOW yang dinilai belum memberikan ruang mediasi, meskipun surat yang dilayangkan DPW Sikandi disebut telah ditembuskan kepada pihak terkait.

Menurutnya, Dewan Pembina semestinya dapat memanggil pihak-pihak yang berselisih untuk mengetahui duduk perkara secara langsung dan mencari jalan keluar.

“Setidaknya dipanggil, baik pihak Sikandi maupun BKOW. Apa yang sebenarnya terjadi,” katanya.

Di sisi lain, ia membantah anggapan bahwa DPW Sikandi sengaja mencari perhatian dengan mempersoalkan persoalan tersebut.

Menurutnya, persoalan ini dianggap serius karena berkaitan dengan tudingan terhadap seseorang yang dinilai dapat berdampak terhadap nama baik dan reputasi.

“Ini bukan mencari muka. Persoalannya besar karena ada nama baik yang dipertaruhkan,” ujarnya.

Ia berharap persoalan tersebut dapat memperoleh klarifikasi secara terbuka sehingga tidak berkembang menjadi polemik.

Menurutnya, BKOW semestinya mampu menjadi ruang untuk menyatukan visi dan misi organisasi wanita serta mengakomodasi aspirasi dari organisasi-organisasi yang menjadi anggotanya.

Dengan belum tercapainya titik temu dalam proses klarifikasi, DPW Sikandi Pemuda Pancasila Sumsel menyatakan akan mempertimbangkan langkah selanjutnya sesuai proses yang telah ditempuh.

Hingga berita ini diturunkan, pernyataan dari pihak BKOW Sumsel terkait tudingan dan kronologi yang disampaikan DPW Sikandi tersebut belum dimuat dalam berita ini. Konfirmasi dari pihak BKOW penting untuk memberikan perspektif dan penjelasan atas persoalan yang dipersoalkan.

Sementara, Leni Mardiana dalam kesempatan yang sama menambahkan, kabar yang menyebut dirinya merokok saat Musyawarah Paripurna (Muspar) BKOW Sumatera Selatan menjadi pukulan tersendiri bagi dirinya.

Leni mengaku terpukul bukan hanya karena tudingan tersebut, tetapi juga karena fitnah itu dinilai menyentuh kredibilitas dirinya sebagai pengurus organisasi dan penyuluh kesehatan.

“Saya sedih dan kesal karena saya tidak melakukannya, tetapi ada yang menuduh seperti itu,” katanya.

Bagi Leni, persoalan tersebut menjadi semakin berat karena dirinya selama ini aktif dalam kegiatan organisasi dan penyuluhan kesehatan. Sebagai penyitas kanker, ia benar-benar menjaga pola hidup sehat.Karena itu, fitnah mengenai rokok menurutnya bukan perkara sepele.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *