Lentera-PENDIDIKAN.com,MUARA ENIM- Tiga rumah warga Desa Ulak Bandung yakni Feri Samsidar 46), Agnes Padri Olpa (35) dan Rusmili (72) yang berada di pinggir Sungai Lematang, Desa Ulak Bandung, Kecamatan Ujan Mas, Kabupaten Muara Enim, terancam longsor akibat abrasi yang terjadi di bantaran sungai Lematang. Namun kondisi paling yang paling mengkhawatirkan terjadi pada rumah milik Feri Samsidar (46). Tanah di sekitar rumahnya terus tergerus aliran Sungai Lematang dan kini jaraknya diperkirakan tinggal sekitar satu meter dari bangunan rumah.
Selain rumah Feri, rumah milik Rusmili (72) juga terdampak dengan adanya retakan pada bagian dapur. Sementara itu, septic tank rumah milik Agnes Padri Olpa (35) mengalami kerusakan akibat tanah yang tergerus.
Kepala Desa Ulak Bandung Nopiansyah, mengatakan kondisi tersebut dipicu perubahan arus Sungai akibat tanah napal yang berada di dasar Sungai Lematang. Akibat penyempitan aliran sungai tersebt membuat arus berbelok dan menghantam tebing di sisi permukiman warga.
“Sebelumnya lebar permukaan air yang mengalir sekitar 140 meter, sekarang menyusut menjadi sekitar 40 meter. Akibatnya arus sungai dahulu terbagi rata akibat adanya tanah napal tersebut menjadi menyempit sehingga arus air pindah ke arah tebing dan membuat tanah mengalami abrasi atau longsor,” ujar Nopiansyah, Kamis (27/8/2026).
Lanjut, Nopiansyah hingga saat ini terdapat tiga rumah warga yang berada dalam kondisi rawan. Pemerintah desa telah mengimbau warga untuk sementara meninggalkan rumah dan melakukan relokasi ke tempat yang lebih aman.
“Sejauh ini kami telah mengimbau masyarakat untuk sementara pindah dulu tempat tinggal dan sudah relokasi,” katanya.
Untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan, sambung Noviansyah, lokasi rumah warga yang berada dekat dengan aliran sungai juga telah dipasang garis polisi. Pemerintah desa turut meminta masyarakat mengurangi aktivitas di sekitar lokasi rawan longsor.
Nopiansyah berharap pemerintah dapat segera mengambil langkah teknis untuk mengatasi perubahan arus Sungai Lematang. Salah satu solusi yang diusulkan adalah membelah atau mengeruk bagian napal di tengah sungai sehingga aliran air dapat terbagi dan tidak terus menghantam tebing di dekat permukiman.
“Kami berharap kepada pemerintah untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan. Napal ini harus dibelah dua supaya ada pembagian arus air Sungai Lematang. Kalau sudah dibagi dua, air tidak terlalu deras menabrak pinggir sungai,” ujarnya.
Perwakilan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Sumatera VIII Iskandar, mengatakan pihaknya akan berkoordinasi lebih lanjut setelah menerima laporan resmi dari Pemerintah Kabupaten Muara Enim.
Menurutnya, pemerintah daerah perlu terlebih dahulu mengajukan surat kepada BBWS untuk selanjutnya dilakukan perencanaan detail desain serta penganggaran yang kemudian diajukan ke pemerintah pusat.
“Selanjutnya Bupati dulu yang membuat surat ke Balai untuk perencanaan detail desain dan anggaran diajukan ke pusat,” jelas Iskandar.
Iskandar menerangkan, berdasarkan pengamatannya di lapangan, keberadaan napal di tengah aliran sungai menyebabkan perubahan arah arus ketika debit air surut. Kondisi tersebut membuat arus mengarah ke sisi permukiman dan menggerus bagian bawah tebing.
“Kalau saya lihat lokasinya karena napal di tengah-tengah, air surut jadi ke kanan membuat skoring dan menggerus di bawah tanggul saluran hingga tanah di atasnya turun sehingga longsor,” katanya.
Secara teknis, lanjut Iskandar, salah satu langkah yang dapat dilakukan adalah mengeruk napal yang berada di tengah sungai agar arus air dapat kembali terbagi ke sisi lainnya. Ia juga mengingatkan masyarakat, terutama anak-anak, untuk tidak bermain atau beraktivitas di sekitar lokasi yang rawan longsor.
Sementara itu, Nefi Riana (43), istri Feri Samsidar, menceritakan bahwa peristiwa longsor mulai terjadi pada Kamis (20/8/2026) sekitar pukul 06.30 WIB.Saat kejadian, ia bersama suaminya sedang berada di kebun. Di rumah hanya terdapat seorang anak mereka yang masih duduk di bangku sekolah dasar dan belum berangkat sekolah.
“Pas itu anak menyusul ke kebun memberitahu kami untuk mengajak pulang. ‘Pulanglah dulu Pak, orang di dusun sudah ramai.’ Ternyata pas anak kami belum pergi jauh, kondisi tanah sudah longsor,” ungkapnya.
Kondisi tersebut membuat keluarga Feri merasa waswas, terutama jika hujan deras kembali turun. Mereka khawatir tanah di sekitar rumah kembali mengalami pergerakan hingga mengancam keselamatan penghuni. Dan sementara itu ia sekeluarga terpaksa mengungsi sementara ke rumah orangtuanya untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan.
“Tentu rasanya was-was dan khawatir, apalagi kalau nanti terjadi hujan deras bisa longsor rumah,” ujarnya.
Nefi berharap pemerintah dapat segera melakukan penanganan agar arus Sungai Lematang tidak lagi menghantam tebing yang berada di dekat rumah mereka.
“Kalau bisa harapannya kepada pemerintah supaya air sungai itu tidak lagi menabrak ke pinggir dekat rumah,” harapnya.
Sebelumnya, Pelaksana Tugas (Plt) Bupati Muara Enim Sumarni juga telah meninjau langsung lokasi longsor di Desa Ulak Bandung. Namun, Sumarni tidak memberikan keterangan kepada wartawan karena mengaku sebelumnya telah diwawancarai.
“Jadilah tadi sudah wawancara, ini mau lanjut lagi ke Gelumbang meninjau karhutla,” ujarnya seperti terburu-buru.












