Lentera-PENDIDIKAN.com,PALEMBANG-Kerja Bareng Komunitas Musik Kawan Lamo dan Dewan Kesenian Palembang (DKP) meramaikan Kawasan Heritage Lawang Borotan sepertinya sesuai harapan.
BUkan hanya seni, tetapi juga melibatkan kuliner UMKM. Tidak hanya seni musik, tapi juga sastra, teater, seni rupa, tari, dan film seakan ‘tersandera’ dan terbawa arus atraksi di panggung dan seputar Lawang Borotan.
“Acara ini terus berlanjut hingga Sabtu malam (26/7/2025), menghadirkan ragam pertunjukan dari berbagai spektrum kesenian,” kata Ketua Panitia, Nandi.
Para pelukis Rudi, Don Tiger, Gede, dan Yan Komik larut dalam warna dan kuas berpagut kanvas. Mereka menorehkan karya dan imajinasi peninggalan Kesultanan Palembang yang kini semakin hidup dengan hadirnya Parade Bunyian.
Dan semangat mereka semakin terbakar, ketika di hari terakhir, tiga lukisan dari lima yang terpajang di atas kanvas, berpindah tangan melalui proses lelang.
Ini bisa jadi ide baru di setiap event, perupa melakukan aktivitas on the spot dan di akhir acara dilakukan apresiasi sehingga bisa melibatkan masyarakat dalam proses menikmatikarya seniman.
Demikian diungkapkan pelaksana Ketua Komite Seni Rupa DKP, Martha Astra. Beberepa penampilan di malam perdana. Bendenget Home Band, Second Jumper Kerjo Kelompok D’asterix, Anafora, Tarian Daerah, Weekly, Bendenget-Homeband , dan Tari Tanggai, Pal 7, Thunder Band.
Kesemarakan acara selama dua hari itu, semakin panas dikocok oleh MCnya, Loedy & Rizma Featuring Mamen. Di hari kedua, beberapa band dan tim seni lainnya juga tampil, di antaranya, Bandenget (Home Band) yanmg dimotori Mpit dan didukung musisi lainnya, Adi, Hendri, Andi PP biru, Ucen, Risma, Ludy, Bembeng dan Mamen, juga tampil The Romans Band. Dilanjutkan oleh solois, Ali Goik yang membawakan dua lagu, Kami Bukan Hama dan Penumpang Gelap,
Lalu ada Tanjack Kultur, kelompok eksplorator bunyi-bunyian etnik yang membawa suara-suara alam dan tradisi ke dalam konteks modern. Ada juga penampilan Eko Raphsody, Don’t to Earth, Second Jumper, dan Orkes Penampilan Terakhir dengan vokalisnya Randi. Masyarakat diundang untuk datang, tak sekadar menonton, tetapi merasakan denyut nadi kota Palembang yang berdetak lewat musik, dongeng, dan kebudayaan.
Usai seremonial penutupan, yang menghadirkan Ketua Kawan Lamo, Mpit dan perwakilan dari Ajendam, serta Pembina Kawan Lamo Asrul Indarwan, diakhiri oleh Wakil Ketua DPRD Pali Firdaus Hizbulah.
Dalam sambutannya, intinya mereka menyatakan bahwa parade Bunyian ini memberikan kesempatan dan ruang bagi berbagai seniman dari beragam cabangnya untuk berekspresi dalam satu panggung. Itupun dari beragam masa. Masa lalu hingga masa kini.
Dewan Kesenian Palembang dan Kawan Lamo telah memberikan energi bukan sekadar bagi para seniman, tetapi juga bagi masyarakat dan berbagai stakeholder lainnya. Pedagang UMKM pun, diberi kesempatan berpartisipasi dalam even ini. Sehingga para talent, panitia dan penonton bias menikmati kuliner selama pagelaran.
Ketua DKSS, Ms Iqbal Rudianto mengapresiasi kegiatan seperti Parade Bunyian ini. “Nanti kita akan perluas untuk wilayah Sumsel, sehingga energi positif dari kegiatan ini akan ditularkan ke area yang lebih luas. Syukur-syukur kalau pemerintah bisa berpartisipasi dan memberi dukungan yang lebih besar,” tegasnya, didampingi Sekjen, Qusoi.
Dinas Pariwisata Palembang melalu Kabid Pemasaran Hatta Fadhilah merespn positif Parade Bunyian dan berharap ke depan menjadi agenda rutin yang mempertemukan seniman dan beragam komunitas dan sanggar.
Kabid Kesenian dan Film Dinas Kebudayaan Palembang yang mewakili Kepala Dinas, merespon positif, namun mengakui belum bisa memberikan support yang berarti.Meski demikian, dia memuji apa yang dilakukan seniman dengan menggelar kegiatan secara bergotong royong.












