Lentera-PENDIDIKAN.com,PALEMBANG-Suasana Aula Nurul Amal, Sekip, Palembang, siang itu tidak sekadar dipenuhi diskusi akademik. Ia menjelma ruang pertemuan antara ingatan, suara, dan identitas. Bedah buku “Sahilin dan Karya Musiknya: Biografi Maestro Tembang Batanghari Sembilan” menghadirkan satu kesadaran bersama: bahwa tradisi bukan benda mati, melainkan napas yang terus diperjuangkan.
Buku yang ditulis oleh Feri Firmansyah bersama tim ini membuka lapisan-lapisan penting tentang Sahilin—bukan hanya sebagai seniman, tetapi sebagai simpul budaya.
Suara Penulis: Membaca Sahilin Lebih dari Biografi Dalam pemaparannya, Feri Firmansyah menegaskan bahwa buku ini sengaja ditulis melampaui pendekatan biografis biasa.
“Kami tidak ingin berhenti pada cerita hidup. Sahilin harus dibaca sebagai teks budaya. Di dalam petikan gitarnya, ada struktur musikal, ada sastra lisan, ada cara berpikir masyarakat,” ujarnya.
Ia menjelaskan, Sahilin diposisikan dalam tiga peran utama: pelestari, inovator, dan inspirator. Menurutnya, kekuatan Sahilin justru terletak pada kemampuannya berinovasi tanpa memutus akar.
“Ia tidak memodernisasi secara serampangan. Ia memahami batas, dan di situlah letak kejeniusannya,” tambahnya.
Diskusi menghadirkan sejumlah narasumber, seperti Dedy Firmansyah, Silo Siswanto, Sayid Muhammad, serta Faldy Lonardo. Forum berlangsung hidup dengan keterlibatan mahasiswa, seniman, dan praktisi yang aktif berdialog. Menurut Dedy Firmansyah, Sahilin adalah contoh langka dari seniman yang setia pada proses.
“Sahilin menunjukkan bahwa tradisi tidak bertahan karena diwariskan saja, tetapi karena dikerjakan terus-menerus. Ia tidak sekadar menjaga, tetapi menghidupi,” jelasnya.
Sementara Silo Siswanto menyoroti urgensi dokumentasi.
“Tradisi lisan seperti Tembang Batanghari Sembilan sangat rentan hilang. Buku ini penting sebagai jangkar akademik agar generasi berikutnya punya rujukan yang jelas,” katanya.
Dari sisi kelembagaan seni, Sayid Muhammad melihat Sahilin sebagai identitas kolektif.
“Kalau kita bicara musik Sumatera Selatan, kita tidak bisa menghindari Sahilin. Ia bukan hanya pelaku, tapi representasi,” ujarnya.
Adapun Faldy Lonardo menyoroti relevansi Sahilin bagi generasi muda.
“Di tengah arus digital, Sahilin mengajarkan satu hal penting: kejujuran dalam berkarya. Itu yang sekarang justru semakin langka,” ungkapnya.
Editor buku, Houtman, memotret Sahilin dengan pendekatan yang lebih reflektif dan puitis. Menurutnya, Sahilin bukan sekadar individu, melainkan representasi utuh dari Musik Batanghari Sembilan.
“Beliau adalah personifikasi. Ketika Sahilin bernyanyi, yang kita dengar bukan hanya suara, tetapi sejarah, pengalaman kolektif, dan kearifan lokal yang mengalir,” tulisnya.
Ia juga menekankan tiga aspek penting yang membuat Sahilin istimewa: Proses kreatif yang lahir dari kesederhanaan, Konsistensi menjaga identitas di tengah modernisasi, dan Perannya sebagai jembatan budaya.
“Ia menghubungkan masa lalu dan masa kini. Tanpa figur seperti Sahilin, mata rantai itu bisa terputus,” tambahnya.
Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah VI, Kristanto Januardi, dalam pengantarnya menempatkan buku ini sebagai bagian dari upaya menjaga ingatan kolektif.
“Kebudayaan selalu menemukan penjaganya. Mereka mungkin tidak selalu terlihat, tetapi karya mereka hidup dalam ingatan masyarakat,” tulisnya.
Ia menggambarkan Sahilin sebagai “penutur kehidupan” yang menyampaikan nilai-nilai melalui tembang.
“Dalam suaranya, kita mendengar nasihat, harapan, bahkan kesedihan masyarakat. Itu bukan sekadar musik, tetapi cermin kehidupan,” ujarnya.
Menurutnya, dokumentasi seperti buku ini menjadi penting agar jejak budaya tidak hilang ditelan waktu. Dari Lokal ke Global. Meski dikenal menjaga keaslian, Sahilin juga memiliki jejak internasional. Pada 1994, ia direkam oleh Philip Yampolsky bersama Siti Rohmah. Rekaman tersebut masuk dalam album Indonesian Guitars, membuka ruang bagi dunia untuk mengenal musik tradisional Indonesia.
Bedah buku ini menegaskan satu hal: Sahilin bukan sekadar masa lalu. Ia adalah arus yang terus mengalir dalam kesadaran budaya hari ini.
Diskusi yang melibatkan berbagai kalangan menunjukkan bahwa warisan itu tidak berhenti pada dokumentasi. Ia hidup dalam tafsir, dalam praktik, dan dalam upaya generasi baru untuk memahami kembali akar mereka.
Di tengah zaman yang bergerak cepat, pesan dari forum ini sederhana namun kuat, selama masih ada yang bertutur, bernyanyi, dan mengingat, kebudayaan tidak akan pernah benar-benar hilang.


















