Para Ahli Ungkap Sejarah dan Perjalanan Hidup Ratu Sinuhun

Lentera-PENDIDIKAN.com,PALEMBANG-Workshop Mewujudkan Ratu Sinuhun sebagai Pahlawan Perempuan Nasional dari Sumsel di gelar di Graha Bina Praja, Pemprov Sumsel ,Kamis (24/7/2025).

Sejumlah ahli baik sejarawan, budayawan dan pakar hukum adat dan gender serta filologi mengungkap asal usul Ratu Sinuhun yang bakal di ajukan pihak Pemprov Sumsel sebagai pahlawan nasional pertama dari Sumsel.

Hadir diantaranya Anggota DPD RI dapil Sumsel dr. Ratu Tenny Leriva, M.M, Ketua Umum Srikandi Tenaga Pembangunan (TP) Sriwijaya, Nyimas Aliah, SE., S.Sos., M.Ikom, bersama Ketua Pembina Srikandi TP Sriwijaya, Hanna Gayatri, dan pakar hukum adat dan gender dari Srikandi TP Sriwijaya, Dr. Kunthi Tridewiyanti, SH.MA CLA, Pembina Srikandi Tenaga Pembangunan (TP) Sriwijaya,Brigjen Pol Ikhsan dan jajaran pengurus pusat Srikandi TP Sriwijaya, Sultan Palembang Darussalam, Sultan Mahmud Badaruddin (SMB) IV Jaya Wikrama RM Fauwaz Diradja SH Mkn , Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Provinsi Sumsel, Fitriana, Staf Ahli Bidang Pemerintahan, Hukum, dan Politik Pemprov Sumsel, Panji Cahyanto, budayawan Palembang Vebri Al Lintani, Dosen UIN Raden Fatah Palembang Nyimas Umi Kalsum.

Turut hadir Perwakilan Kesultanan Palembang Darussalam Rasyid Tohir,S.H, Dato’ Pangeran Nato Rasyid Tohir, , anggota Pusat Kajian Sejarah Sumatera Selatan (Puskass) Dr Kemas Ar Panji Msi, para budayawan, sejarawan Palembang dan Sumsel, perwakilan dinas dan OPD di lingkup Pemprov Sumsel, perwakilan Forum Pariwisata dan Budaya (Forwida).

Juga hadir perwakilan Srikandi TP Sriwijaya provinsi Jawa Barat (Jabar), Provinsi Lampung, Provinsi Sumsel, Provinsi Jambi, Provinsi Bengkulu. Menurut Sultan Palembang Darussalam, Sultan Mahmud Badaruddin (SMB) IV Jaya Wikrama RM Fauwaz Diradja SH Mkn menjelaskan, selaku istri dari penguasa palembang, ratu sinuhun telah memperlihatkan bahwa derajat kaum perempuan saat itu sudah memiliki tempat dan pengetahuan intelektual yang tinggi karena sudah bisa membaca dan menulis. Hal ini karena ia merupakan putri dari pangeran manco negoro maka kebiasan dalam keraton dan keilmuan dia terbina dari dini .

Setelah Islam ada di nusantara anak perempuan dan laki-laki bisa mengaji dan membaca qur’an sehingga memudahkan komunikasi dengan seluruh masyarakat nusantara khususnya melayu karena menggunakan tulisan arab melayu/jawi (tulisan arab bahasa melayu).

Karena itu maka pada saat itu lingua franca yang digunakan adalah bahasa dan tulisan melayu di nusantara, beralih meninggalkan tulisan jawa namun bahasa Jawa masih terasa dalam pengucapan .

“Kondisi Palembang yang sangat luas mulai dari bangka hulu sampai bangka belitung meliputi sebagian Jambi dan Lampung mengakibatkan perlunya pengaturan yang mengatur supaya adanya kepastian hukum yang garis besarnya sama,”katanya.

Karena nusantara sudah dikenal dengan tulisan Arab Melayu yang kemudian digunakan oleh Palembang, maka dibuat peraturan yang disusun untuk mengatur wilayah diluar palembang (uluan) supaya wilayah luar palembang memiliki hukum yang seragam, hal ini merupakan salah satu ciri otonomi daerah yang dimulai di Palembang.

“Simbur cahaya yang dibuat pada masa Pangeran Sido ing Kenayan ini yang disusun oleh Ratu Sinuhun menjadi acuan hukum yang berlaku di daerah yang disusun berdasarkan hal-hal yang sering terjadi dalam keseharian hidup bermasyarakat,” katanya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *