Lentera-PENDIDIKAN.com,MUARA ENIM- Tradisi Melemang sebagai warisan budaya leluhur masih terus dilestarikan masyarakat Desa Karang Raja, Kecamatan Muara Enim, Kabupaten Muara Enim.
Tradisi tahunan ini kembali digelar menjelang malam 10 Muharram 1448 H atau Hari Asyura dan menjadi momen yang dinantikan warga maupun pendatang.
Melemang merupakan tradisi membuat lemang, makanan khas berbahan dasar beras ketan putih maupun ketan hitam yang dimasak menggunakan bambu dan dibakar hingga matang.
Proses pembuatannya membutuhkan ketelatenan, mulai dari menyiapkan bahan, mengaron, mengukus, hingga membakar bambu dalam waktu yang cukup lama.
Setiap kali tradisi Melemang digelar, suasana Desa Karang Raja berubah menjadi lebih ramai. Jalan-jalan desa dipadati kendaraan, sementara masyarakat dari berbagai daerah berdatangan untuk mencicipi lemang khas yang telah menjadi identitas budaya masyarakat setempat.
Lebih dari sekadar tradisi kuliner, Melemang mengandung nilai-nilai kebersamaan dan gotong royong yang diwariskan secara turun-temurun. Kegiatan ini juga menjadi sarana mempererat hubungan kekeluargaan dan memperkuat silaturahmi antarwarga.
Gustandi Putra (42), warga Dusun I Desa Karang Raja, mengatakan tradisi Melemang telah dilakukan secara turun-temurun sejak ratusan tahun lalu dan masih terus dipertahankan hingga saat ini. “Setiap keluarga melaksanakan tradisi Melemang ini di rumah masing-masing ataupun bergabung bersama-sama,” ujarnya, Rabu malam, 24 Juni 2026.
Menurutnya, proses pembuatan lemang diawali dengan menyiapkan sejumlah bahan utama seperti bambu, daun pisang, beras ketan, dan santan. “Untuk bahannya yang paling utama tentu bambu, daun pisang, beras ketan, dan santan. Sedangkan varian lemang umumnya udang, pisang, dan durian,” katanya.
Dijelasknya, tradisi Melemang juga menjadi momentum penting untuk mempertemukan kembali anggota keluarga yang selama ini tinggal berjauhan. “Jadi keluarga-keluarga jauh berkumpul di momen Melemang 10 Muharram ini. Kita juga mengundang kerabat dan rekan kerja untuk bersama-sama menikmati lemang,” tuturnya.
Ia berharap generasi muda dapat terus menjaga dan melestarikan tradisi yang telah diwariskan para leluhur tersebut. “Utamanya agar tetap mengingat leluhur dan menjalin silaturahmi dengan keluarga-keluarga yang jauh,” harapnya.
Hal senada disampaikan Jaya (30), warga Kota Palembang, yang sengaja berkunjung ke Desa Karang Raja untuk menyaksikan tradisi Melemang. Karena memang sudah jadi tradisi sekaligus kita silaturahmi dengan keluarga yang ada di Desa Karang Raja,”ujarnya.
Jaya mengungkapkan, momen Melemang ini sudah seperti lebaran karena setahun sekali, berkumpul dan makan lemang bersama-sama keluarga. “Momennya bahkan lebih ramai sampai membuat jalanan padat dan macet panjang karena antusiasme tradisi Melemang ini,” ungkapnya.
Jaya berharap tradisi Melemang sebagai salah satu kearifan lokal masyarakat Karang Raja dapat terus dipertahankan dan diwariskan kepada generasi mendatang sebagai bagian dari identitas budaya daerah.
“Dengan semangat kebersamaan yang terus terjaga, tradisi Melemang tidak hanya menjadi perayaan menyambut 10 Muharram, tetapi juga menjadi simbol kuatnya ikatan kekeluargaan dan penghormatan masyarakat Karang Raja terhadap warisan budaya leluhur,” pungkasnya.
















