Lentera-PENDIDIKAN.com,MUARA ENIM- Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Muara Enim terus mendorong pelaku Usaha Mikro dan Kecil (UMK) untuk meningkatkan nilai tambah komoditas lokal melalui inovasi dan pengolahan produk. Salah satunya dengan menggelar Pelatihan Keterampilan Teknis Hilirisasi Kopi dan Olahan Serat Nanas bagi UMK Tahun 2026.
Kegiatan yang diselenggarakan Dinas Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah (DKUKM) Kabupaten Muara Enim tersebut berlangsung selama tiga hari, 1-3 September 2026, di Hotel Griya Sintesa Muara Enim.
Kepala Dinas Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah Kabupaten Muara Enim Syarifudin, AP., M.Si., mengatakan UMK memiliki peran penting dalam menggerakkan perekonomian daerah, membuka lapangan kerja, meningkatkan pendapatan masyarakat, sekaligus memperkuat ekonomi kerakyatan.
“Kabupaten Muara Enim memiliki berbagai potensi komoditas lokal yang dapat dikembangkan menjadi produk bernilai tambah,” ujarnya.
Kopi dan nanas, kata dia, tidak hanya memiliki peluang untuk dipasarkan sebagai komoditas primer, tetapi juga dapat diolah menjadi berbagai produk dengan nilai ekonomi yang lebih tinggi.
“Oleh karena itu, diperlukan peningkatan kapasitas pelaku usaha melalui penguasaan keterampilan teknis, inovasi pengolahan, peningkatan mutu, pengembangan desain dan kemasan, serta pemahaman terhadap peluang pemasaran,” katanya.
Ia menjelaskan, melalui pelatihan tersebut Pemkab Muara Enim berupaya mendorong proses hilirisasi komoditas lokal sehingga nilai tambah ekonomi dapat dinikmati lebih besar oleh masyarakat dan pelaku usaha di daerah.
Sementara itu, Bupati Muara Enim yang diwakili Staf Ahli Bidang Ekonomi, Keuangan dan Pembangunan, Hermin Eko Purwanto, sekaligus membuka kegiatan, mengatakan pelatihan tersebut memiliki arti penting dan strategis dalam mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat.
Menurut Hermin, Muara Enim memiliki beragam potensi sumber daya lokal yang apabila dikelola secara kreatif, inovatif dan berkelanjutan dapat menjadi kekuatan ekonomi baru bagi masyarakat.
“Kopi dan nanas bukan hanya komoditas yang dijual dalam bentuk bahan mentah. Lebih dari itu, keduanya memiliki peluang besar untuk dikembangkan menjadi berbagai produk olahan yang memiliki nilai tambah, daya saing dan nilai jual yang lebih tinggi,” katanya.
Ia menegaskan, hilirisasi yang didorong Pemkab Muara Enim tidak hanya sebatas mengolah bahan baku, tetapi juga mencakup proses pengemasan, pemasaran hingga pengembangan produk agar mampu menjangkau pasar yang lebih luas.
Hermin juga menyoroti potensi pemanfaatan bagian tanaman yang selama ini belum dimanfaatkan secara optimal. Dengan dukungan teknologi, keterampilan, desain dan kreativitas, serat nanas dapat diolah menjadi berbagai produk kerajinan maupun produk kreatif yang memiliki karakter khas daerah.
“Jangan berhenti pada pelatihan. Setelah pelatihan ini selesai, harus ada tindak lanjut berupa produk, peningkatan kualitas, pengembangan kemasan, perluasan pemasaran dan peningkatan omzet usaha,” tegasnya.
Ia berharap para peserta tidak hanya memperoleh tambahan pengetahuan, tetapi mampu menerapkan keterampilan yang didapat untuk dikembangkan menjadi usaha nyata.
Para pelaku UMK juga diminta memanfaatkan kegiatan tersebut untuk belajar, berdiskusi, bertukar pengalaman dan membangun jejaring usaha dengan sesama peserta maupun narasumber.
Pemkab Muara Enim, lanjut Hermin, terus berkomitmen memperkuat sektor UMK dan ekonomi kerakyatan sebagai bagian penting dalam pembangunan daerah. UMK diharapkan tidak hanya mampu bertahan, tetapi juga dapat naik kelas menjadi usaha yang lebih profesional dan memiliki jangkauan pasar yang lebih luas.
“Harapan kita dari usaha yang sederhana menjadi usaha yang lebih profesional, dari pasar lokal mampu menembus pasar regional dan pada akhirnya mampu bersaing di tingkat nasional,” ujarnya.
Untuk mendukung hal tersebut, ia mengajak perangkat daerah, dunia usaha, lembaga pendidikan, perbankan serta berbagai pemangku kepentingan untuk membangun kolaborasi dalam menciptakan ekosistem usaha yang semakin kondusif.
Penguatan UMK juga perlu dilakukan melalui peningkatan produksi, standardisasi, legalitas, kemasan, branding, digitalisasi hingga pemasaran.
“Ketika potensi lokal dipadukan dengan keterampilan, teknologi dan kreativitas, maka akan lahir produk-produk unggulan Muara Enim yang memiliki identitas dan menjadi kebanggaan daerah,” katanya.
Melalui kegiatan tersebut, Pemkab Muara Enim menargetkan peningkatan kompetensi dan keterampilan teknis pelaku UMK, munculnya produk baru berbasis kopi dan serat nanas, peningkatan kualitas serta daya saing produk lokal, hingga terbukanya peluang pasar baru.
Selain itu, pelatihan diharapkan mampu meningkatkan pemanfaatan bahan baku lokal serta membangun semangat kewirausahaan dan inovasi sehingga UMK di Kabupaten Muara Enim semakin mandiri, produktif, inovatif dan berdaya saing.
“Jadikan pelatihan ini sebagai titik awal untuk menciptakan perubahan. Jangan takut mencoba hal baru, jangan takut berinovasi dan jangan cepat puas dengan apa yang sudah dicapai,” pungkas Hermin.
Dalam pelatihan tersebut, peserta mendapatkan materi dari sejumlah narasumber, yakni Dr. Noor Rouiq Ahmadi, S.T.P., M.P., Kepala Balai Besar Penerapan Modernisasi Pertanian Sumatera Selatan; Robby Anugrah Putra, Founder WD Coffee and Roastery; Istina, pemilik Omah Kreatif Indy; Eryana Oktavia, pengrajin Omah Kreatif Indy; Sudarusman, S.E., Sekretaris Bidang Quality Control Koperasi Produsen Miwa Pineapple; serta Arwedi, A.Md., Manager Bidang Produksi dan Pengembangan Koperasi Produsen Miwa Pineapple.














