Lentera-PENDIDIKAN.com,MUARA ENIM-Desa Karang Raja, Kecamatan Muara Enim, Kabupaten Muara Enim, Provinsi Sumsel, merupakan salah satu Desa yang sampai saat ini masih menjaga dan mempertahankan tradisi Melemang.
Tradisi Melemang ini rutin setiap tahunnya dilakukan oleh masyarakat di beberapa desa dalam Kabupaten Muara Enim yang salah satunya adalah di Desa Karang Raja, Kecamatan Muara Enim, Kabupaten Muara Enim, secara turun temurun sejak ratusan tahun yang lalu.
Tradisi Melemang ini, biasa dilakukan setiap tanggal 10 Muharram. Setiap keluarga biasanya, berpartisipasi membuat Lemang pada perayaan 10 Muharram di setiap tahunnya, seiring berkembangnya waktu, Lemang sendiri telah mengalami banyak inovasi, seperti halnya lemang Durian, Pisang, Labu Kuning, udang, Kopi dan sebagainya sesuai selera masing-masing.
Lemang sendiri merupakan olahan makanan yang berbahan baku beras Ketan Putih atau Ketan Hitam yang diolah dan dimasak dengan cara dibakar di dalam bambu. Budaya unik warisan nenek moyang ini tak hanya sebagai simbol seremonial semata, tapi juga terkandung nilai-nilai gotong royong yang diwariskan dari generasi ke generasi sekaligus ajang mempererat jalinan silaturahmi.
Setiap tiba waktunya Melemang, suasana desa selalu ramai hingga sampai memacetkan lalulintas akibat dipadati kendaraan, masyarakat dari luar daerah berdatangan untuk mencicipi lemang khas Desa Karang Raja.
Deffri, warga Dusun I Desa Karang Raja mengatakan, tradisi Melemang ini dilaksanakan untuk melestarikan adat dan budaya sekaligus pengingat agar tidak melupakan sejarah nenek moyang leluhur dahulu.
“Warga Desa Karang Raja bersama-sama melakukan kegiatan Melemang yang nantinya hasil lemang ini akan dibawa ke masjid untuk kegiatan 10 Muharram,” kata Deffri, Sabtu (5/7/2025) malam.
Lanjut, Deffri bahwa momen Melemang ini memang selalu ditunggu warga Desa Karang Raja sebab seperti layaknya lebaran untuk menjalin silaturahmi dengan keluarga-keluarga yang jauh dan rekan untuk bersama-sama menikmati lemang.
Dituturkan Deffri, setelah ratusan tahun melaksanakan tradisi Melemang ini, untuk saat ini memang mulai ada kendala dan kesulitan yang kerap dihadapi saat Melemang salah satunya bahan baku yang mulai langka seperti bambu untuk media Melemang dan bahan lainnya seperti kelapa, pisang yang saat ini harganya cukup tinggi.
“Untuk tahun ini kita kesulitan bahan baku kelapa, karena cukup langka dan harganya juga lumayan tinggi. Kalau untuk bambu di wilayah Desa Karang Raja sudah terbatas sehingga harus mencari ke wilayah-wilayah yang cukup jauh dari desa untuk mendapatkan bambu. Meski demikian, semua itu tetap diusahakan, karena menjadi kepuasan tersendiri bagi kami warga Desa Karang Raja jika bisa melaksanakan kegiatan Melemang,” ucapnya.
Seiring perkembangan zaman, isian lemang yang umumnya lemang udang dan pisang, kini sudah semakin bermacam-macam seperti ada lemang durian dan coba lemang original yang tanpa udang untuk pembanding rasa.
Deffri berharap ke depannya generasi-generasi dan pemerintah selanjutnya dapat terus melestarikan adat budaya Melemang ini. Sebab dari tradisi Melemang ini sangat banyak manfaat dan faedahnya terutama untuk mengingat asal kita dan leluhur serta menjalin silaturahmi dengan keluarga-keluarga yang jauh.
“Tradisi ini jika tidak kita jaga dipastikan kedepan akan hanya tinggal cerita bagi anak cucu kita. Untuk itu perlu juga dukungan dari semua pihak terutama pemerintah sebagai kekayaan kearifan lokal,” ujarnya.











