Lentera-PENDIDIKAN.com,MUARA ENIM-Dalam rangka untuk meningkatkan pemahaman sekaligus pengetahuan terhadap penggunaan berbagai produk pangan asal hewan yang Aman, Sehat, Utuh, dan Halal (ASUH) dan mendukung program Makanan Bergizi Gratis (MBG), Pemerintah Kabupaten Muara Enim melalui Dinas Tanaman Pangan Holtikultura dan Peternakan (TPHP) menggelar sosialisasi Produk Pangan Asal Hewan yang Aman, Sehat, Utuh, dan Halal (ASUH) di Hotel Griya
Serasan Sekundang, Rabu(30/7/2025).
Kegiatan tersebut dibuka oleh Sekretaris Dinas TPHP Muara Enim Budi Jhonson Hutapea SP MSi mewakili Kadin, dan drh Septianita Evarozani, M.TP dari Balai Veteriner Lampung dan Elya Susita, SKM, MM dari Dinas Kesehatan Kabupaten Muara Enim selaku Narasumber Sosialisasi Produk Pangan Asal Hewan yang Aman, Sehat, Utuh, dan Halal (ASUH). Kegiatan ini, juga dihadiri Kepala OPD, Tamu undangan, Kepala Bidang di Lingkungan Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Peternakan Kabupaten Muara Enim, Tim Penggerak PKK, Dharma Wanita, Persit Kartika Chandra Kirana dan Bhayangkari dalam wilayah Kabupaten Muara Enim, Persatuan Isteri Karyawan PTBA Bukit Asam, Guru SMK Negeri 1, Guru SMK Negeri 2 dan Guru SMK Negeri 3 lainnya.
Sekretaris Dinas TPHP Muara Enim Budi Jhonson Hutapea mengatakan bahwa sebagaimana kita ketahui bahwa Presiden RI Prabowo Subianto mempunyai Program dalam pemerintahannya adalah memberikan Makanan Bergizi Gratis (Makan Siang dan Susu Gratis) bagi anak-anak sekolah dan Pesantren sehingga untuk meningkatkan gizi sehigga dapat mencerdaskan anak-anak sekolah di seluruh Indonesia. Berkenaan dengan hal tersebut pembangunan peternakan memegang peranan penting dan strategis khususnya dalam hal penyediaan bahan pangan asal hewan yang berkualitas. Permintaan bahan pangan asal hewan (daging, telur dan susu) dari waktu ke waktu cenderung mengalami peningkatan sejalan dengan Progam memberikan Makanan Bergizi Gratis (Makan Siang dan Susu Gratis) bagi anak-anak sekolah dan pesantren, pertambahan jumlah penduduk, perkembangan ekonomi, perubahan gaya hidup, kesadaran gizi dan perbaikan tingkat pendidikan.
Fenomena ini menunjukkan, lanjut Budi, bahwa dalam dasawarsa mendatang akan terjadi perubahan pola konsumsi masyarakat di mana permintaan produk peternakan akan meningkat cukup tinggi. Daging, telur dan susu sebagai sebagai salah satu bahan pangan asal hewan yang banyak digemari oleh hampir seluruh masyarakat Indonesia, diharapkan mempunyai nilai nutrisi tinggi dan berkualitas prima.
“Ini untuk melindungi anak-anak kita dari jajan sembarangan di lingkungan sekolah. Sebagai orang tua harus memberikan edukasi bagi anak-anak untuk membeli jajanan di lingkungan sekolah yang sehat, karena jajanan di lingkungan sekolah cenderung diminati anak-anak karena praktis, mudah diperoleh, bervariasi, dan harganya terjangkau bagi anak-anak sekolah. Namun dibalik itu semua, jajanan sekolah juga dapat menyebabkan beberapa penyakit seperti diare, keracunan dan penyakit serius lainnya,” bebernya.
Lebih lanjut Budi menjelaskan. bahwa pangan asal hewan mengandung zat bergizi bagi kesehatan dan pertumbuhan manusia. Pangan asal hewan merupakan salah satu pangan yang dikonsumsi oleh masyarakat Indonesia. Berkenan dengan hal tersebut maka dalam mengkonsumsinya harus memperhatikan aspek Aman, Sehat, Utuh dan Halal (ASUH).
Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk menjadi sehat adalah dengan mengkonsumsi pangan yang memenuhi standar Kesehatan. Pemerintah telah menjalankan Program Gerakan Indonesia Sehat sejak Tahun 2010 guna meningkatkan derajat kesehatan dan status gizi masyarakat.
“Fokus utama program ini berupa terciptanya penerapan keamanan pangan demi terwujudnya masyarakat sehat. Pangan yang aman, berkualitas dan bergizi adalah standar yang harus dipenuhi dalam upaya menciptakan sistem keamanan pangan, sehingga dapat memberikan dampak kesehatan bagi masyarakat,” ujarnya.
Masih dikatakan Budi, salah satu cara yang bisa dilakukan untuk mewujudkan keamanan pangan di Indonesia adalah dengan menerapkan pola pangan ASUH (Aman, Sehat, Utuh dan Halal) yaitu pangan yang bebas dari kontaminasi berbahaya (kontaminasi fisik, kimia maupun biologis), memiliki nilai gizi yang tinggi, tidak tercampur bahan yang lain dan diolah berdasarkan syariat Islam sehingga Halal untuk dikonsumsi. Pola pangan ASUH dilatar belakangi dari munculnya beberapa kejadian di Indonesia, seperti isu pelanggaran keamanan pangan oleh industri dan kasus keracunan yang disebabkan karena kelalaian masyarakat dalam memilih bahan baku makanan. Masyarakat harus cerdas dalam memilih informasi tentang bahan pangan, yang akan dikonsumsi dan jangan mudah terpengaruh oleh hal-hal yang dapat meresahkan orang banyak. Masyarakat harus diberikan pengetahuan tentang pola pangan yang ASUH.
Untuk itu, kata Budi, Pemerintah Kabupaten Muara Enim melalui Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Peternakan berupaya meminimalisir permasalahan dimaksud, diantaranya dengan Pelaksanaan Monitoring dan Surveillans Residu terhadap cemaran mikroorganisme dan residu antibiotik melalui Kegiatan Pengawasan dan Pengendalian Peredaran Bahan Asal Hewan dan Pangan Asal Hewan bekerja sama dengan Balai Veteriner Lampung, dan selam tiga tahun terakhir ini hasil pengujian laboratorium terhadap sampel bahan pangan asal hewan pada beberapa wilayah dalam Kabupaten Muara Enim belum terdeteksi adanya cemaran yang berbahaya. Walaupun demikian, upaya Pemerintah Kabupaten Muara Enim tidak berhenti hanya sebatas monitoring dan surveillans terhadap bahan pangan asal hewan tersebut, namun dirasakan perlu juga untuk memberikan pemahaman dan mengedukasi masyarakat/konsumen untuk meningkatkan wawasan dan kesadaran akan bahayanya mengkonsumsi bahan pangan asal hewan yang tidak ASUH dan tidak hygienis. Pemerintah Kabupaten Muara Enim melalui Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Peternakan melaksanakan
Kegiatan Sosialisasi Produk Pangan asal hewan yang Aman, Sehat, Utuh dan Halal (ASUH) yang salah satu tujuannya adalah untuk mengkomunikasikan, menginformasikan dan mengedukasi masyarakat terutama ibu-ibu rumah tangga dan pelaku usaha olahan hasil ternak agar lebih cerdas dalam memilih, membeli, menyimpan dan menangani bahan pangan asal hewan yang layak konsumsi, hygienis dan ASUH.
“Kepada Narasumber, kami mengharapkan kiranya dapat menyampaikan materi sosialisasi dengan jelas dan gambling sehingga peserta yang hadir dapat memahami dan menerapkan penanganan bahan pangan asal hewan sesuai kaidah yang benar. Selain itu juga dapat membimbing, mengarahkan, melatih dan dapat mendampingi para pelaku usaha secara teknis dan non teknis baik di lapangan/lokasi maupun dengan metode jarak jauh secara online dan dalam bentuk komunikasi lainnya,” harapnya.

















