Lentera-PENDIDIKAN.com,MUARA ENIM-Harga daging ayam di pasar Inpres Muara Enim mencapai Rp 45 ribu per kilogram. Imbasnya, omzet pedagang menurun drastis akibat daya beli masyarakat menurun sehingga memaksa para pedagang mengurangi stok dagangan untuk menghindari hutang yang semakin membengkak.
“Saya mohon kepada Bapak Presiden, tolong hentikan program MBG, karena menyengsarakan kami dan masyarakat luas. Sebab sejak MBG aktif kembali hampir seluruh bahan pokok naik,” ujar salah seorang pedagang Ayam di Pasar Inpres Muara Enim, Emi (58) warga Muara Enim, Selasa (4/8/2026).
Menurut Emi, bahwa separuh hidupnya berjualan ayam potong. Namun semenjak adanya program MBG ini, bukannya kehidupannya bertambah baik namun sebaliknya bertambah susah dan hutang menumpuk.
“Kami para pedagang itu hutang ayam dulu dengan agen. Namun jika tidak habis terjual kami yang menanggung kerugian sehingga kami terpaksa nombok. Bahkan akibat tidak terbayar beberapa langganan agen sudah memutus pasokan dengan kami,” ujar Eni sembari melayani pembeli.
Dikatakan Emi, bahwa sebelum adanya program MBG, setiap hari dirinya bisa menjual sekitar 300 kg ayam potong perhari, namun sejak adanya program MBG penjualannya menurun hanya 150 kg perhari dan itupun kadang-kadang tidak habis.
“Sebelum MBG aktif harga ayam Rp 32 – Rp 32 ribu perkg. Namun sejak mulai aktif terus naik hingga Rp 43 – Rp 45 ribu perkg. Kami lebih senang jual harga murah tetapi pembeli banyak daripada harga mahal pembeli sedikit,” tegasnya.
Dijelaskan Emi, bahwa kenaikan harga ayam di pasar Muara Enim dipicu meningkatnya permintaan ayam di agen untuk memasok kebutuhan program Makan Bergizi Gratis (MBG). Akibatnya membuat omzet pedagang turun drastis dan hutang menumpuk karena jumlah pembeli menurun drastis dibandingkan sebelum program MBG aktif.
Dikatakan Emi, bahwa ia tidak menentang program MBG, namun mungkin sistimnya yang harus diubah. Pemerintah hanya memikirkan anak-anak sekolah sedangkan tidak memikirkan para orangtua yang mencari nafkah yang menafkahi keluarga.
“Agen ayam mereka jual lepas, kalu tidak laku ayamnya itu resiko pedagang. Jadi hutang kami semakin lama semakin besar, jika tidak terbayar agen memutus pasokan dan akhirnya kami tidak bisa lagi mencari nafkah,” keluhnya.
Hal senada dikatakan salah seorang pedagang kelontongan di pasar Inpres Muara Enim Arsis (56) bahwa ketika program MBG berhenti beberapa Minggu ketika anak-anak libur sekolah, harga Sembako terkendali dan normal. Namun sejak program MBG aktif kembali hampir seluruh harga Sembako bahkan sayur-sayuran ikut-ikutan naik.
“Contoh saja beras, itu rata-rata naik Rp 2 ribu perkampil. Ini sudah naik pasokan terbatas dan dijatahi oleh agen untuk kami pengecer. Kalau biasanya berapa yang minta tidak pernah dibatasi,” ujarnya yang juga sehari-harinya berdagang telor ini.
Dikatakan Arsis, dengan kondisi perekonomian saat ini, pihaknya meminta kepada pemerintah agar segera mengambil langkah nyata untuk menstabilkan kembali harga sembako terutama daging ayam ras sehingga harga yang kembali terjangkau, sehingga minat beli masyarakat dapat kembali pulih dan aktivitas penjualan mereka kembali meningkat.
Sementara itu salah seorang konsumen Aisyah (50) warga Muara Gula, Kecamatan Ujan Mas, Kabupaten Muara Enim, bahwa dirinya sengaja untuk berbelanja kebutuhan sehari-harinya ke pasar Inpres Muara Enim dan salah satunya berbelanja Ayam potong.
“Aku kaget tadi pas nanya harga sudah Rp 43 – Rp 45 ribu perkg. Sempat berkeliling cari yang murah. Jadi terpaksa beli hanya setengah kilo saja,” ujarnya.
Dikatakan Aisyah, kondisi bahan pokok saat ini dirasakannya semua naik, termasuk BBM, listrik dan sebagainya sehingga sangat memberatkan masyarakat. Apalagi gaji atau pendapatan tidak naik sehingga dengan kenaikan sembako tersebut merasa gaji semakin kecil sehingga harus pintar-pintar mengatur keuangan dan berhemat.
“Kami minta kepada pemerintah stabilkan harga Sembako dan jangan lagi naikkan tarif BBM, listrik maupun pajak yang akan menambah beban hidup masyarakat. Tolong hapuskan program yang tidak menguntungkan masyarakat luas,” harapnya.


















