Belasan Warga Binaan Lapas Muara Enim Ikuti Pendidikan Kesetaraan

Lentera-PENDIDIKAN.com,MUARA ENIM-Belasan warga binaan di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIB Muara Enim mengikuti program pendidikan kesetaraan Paket A, B, dan C sebagai upaya meningkatkan kualitas diri selama menjalani masa pembinaan, Rabu (06/05/2026).

Program ini menjadi bagian dari dukungan terhadap 15 Program Aksi (PROAKSI) Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan (Kemenimipas) Tahun 2026.

Kepala Lapas Muara Enim Auliya Zulfahmi, menyampaikan bahwa keikutsertaan belasan warga binaan tersebut merupakan bukti nyata antusiasme dalam mengakses hak pendidikan di dalam lapas.

“Program ini dirancang secara terstruktur dengan menggunakan modul terintegrasi serta menjalin kemitraan yang kuat dengan Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Trio Insan Mandiri Muara Enim. Tidak hanya itu, petugas internal juga terlibat aktif dalam proses pembelajaran,” ujar Auliya.

Auliya menjelaskan, selain menggandeng PKBM, pelaksanaan pembelajaran juga didukung oleh sumber daya internal Lapas. Pegawai yang memiliki kompetensi mengajar turut dilibatkan secara langsung, sehingga proses belajar berjalan lebih efektif.

“Pegawai Lapas yang memiliki latar belakang pendidikan dan kompetensi mengajar turut menjadi instruktur. Ditambah lagi kehadiran staf magang dari Kementerian Ketenagakerjaan yang membawa pendekatan pembelajaran yang lebih segar bagi para warga binaan,” jelasnya.

Sementara itu, Kepala Sub Seksi Registrasi dan Bimbingan Kemasyarakatan (Kasubsi Regbimkemas) Angger Purwito, menegaskan bahwa ijazah yang nantinya diperoleh memiliki keabsahan yang sama dengan pendidikan formal di luar lapas.

“Ijazah yang didapatkan nantinya memiliki keabsahan yang sama dengan sekolah umum. Targetnya jelas, warga binaan tidak hanya bebas secara fisik, tetapi juga bebas dari buta aksara dan ketertinggalan pendidikan, sehingga mampu bersaing di dunia kerja atau berwirausaha secara mandiri,” tegas Angger.

Angger menambahkan, pendidikan menjadi bekal penting dalam membentuk karakter dan masa depan warga binaan setelah kembali ke masyarakat.

“Pendidikan adalah kunci perubahan karakter. Kami ingin mereka pulang membawa ijazah, bukan sekadar cerita masa lalu,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *